Gerimis01
Sujud Pertamanya

Kala itu gerimis mencumbui malam, membuat temaram terasa dingin sebab ia berkerudungkan rinai. Reno, preman pasar yang sedang diburu kelompoknya sendiri, berlari berkelit menyusuri jalanan. Di sebuah pertigaan ia memilih berbelok ke kanan, menuju Masjid Maghfirah yang sedang melaksanakan shalat Isya.

Ia membasuh tangan, wajah, dan rambut sekadarnya. Reno tak tahu cara berwudhu, ia hanya ingin terlihat sudah berwudhu. Lalu ia masuk dan berdiri bersama makmum lain yang sedang shalat dan mengikuti setiap gerakan imam hingga salam, meski sebenarnya ia baru mendirikan 3 rakaat.

Usai shalat, jamaah pulang tanpa bertanya. Hanya Pak Amir, marbot masjid, yang menghampirinya. Reno mengaku sedang bersembunyi karena tidak menyetorkan uang hasil pemalakan kepada kelompoknya.

“Menginaplah malam ini. Tapi jangan mencuri, jangan merusak apa pun, dan jaga kebersiham masjid,” kata Pak Amir.

Keesokan harinya Pak Amir mengajarinya berwudhu dan shalat. Reno merasa diterima. Beberapa hari kemudian ia meminta izin tinggal di masjid dan membantu membersihkannya. Imam serta jamaah lain menyambut baik keinginannya.

Hari-hari berikutnya diisi Reno dengan menyapu, mengepel, dan belajar agama. Ia bahkan duduk bersama anak-anak pengajian, membaca iqra, berusaha mampu mengaji. Saat akhirnya mampu menghafal Al-Fatihah tanpa terbata-bata, matanya berkaca-kaca.

Suatu malam, dua mantan rekannya datang mengajak kembali ke jalan lama. Reno menggeleng.

“Aku sudah menemukan tempat pulang,” ujarnya.

Mereka pergi sambil mencibir, sementara Reno tetap bertahan di masjid.

Genap sebulan sejak malam pelariannya, Reno telah menjadi bagian dari Masjid Maghfirah. Pada shalat Isya, di malam yang kembali dirudung gerimis, ia sujud sangat lama. Jamaah mengira ia sedang berdoa.

Namun itu adalah sujud yang tak pernah bangkit.

Reno pergi tanpa sakit dan tanpa tanda. Meninggalkan kisah yang selalu dikenang jamaah: tentang seorang preman yang menemukan jalan pulang tepat sebelum Allah memanggilnya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait